Politik

Wayan Baru Sesalkan Orasi Mahasiswa Bernada Kasar dan Provokatif

 Sabtu, 20 Juni 2026 | Dibaca: 1534 Pengunjung

www.mediabali.id, Klungkung. 

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Klungkung, I Wayan Baru, menyayangkan cara sebagian mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi yang dinilai mulai keluar dari koridor etika akademik dengan menggunakan kata-kata kasar serta narasi yang bersifat provokatif saat berorasi dalam sejumlah aksi demonstrasi.

Menurut Wayan Baru, kritik terhadap pemerintah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi. Namun, penyampaiannya harus tetap menjunjung tinggi kesantunan, intelektualitas, dan rasa hormat terhadap pihak lain.

“Saya sangat menyesalkan apabila ada mahasiswa yang menyampaikan aspirasi dengan kata-kata kasar, menyerang secara personal, bahkan mengandung unsur provokasi. Kritik itu penting dan harus dihormati, tetapi jangan sampai disampaikan dengan cara yang mencederai nilai-nilai demokrasi itu sendiri,” ujar Wayan Baru, Minggu (21/6).

Politisi Partai Gerindra tersebut menegaskan bahwa mahasiswa selama ini dikenal sebagai kaum intelektual yang mengedepankan pemikiran kritis, kajian akademik, dan argumentasi berbasis data. Oleh karena itu, menurutnya, penyampaian pendapat semestinya dilakukan secara santun dan bermartabat.

“Mahasiswa adalah agen perubahan dan calon pemimpin bangsa. Saya berharap setiap kritik yang disampaikan berlandaskan data, kajian, dan solusi, bukan dengan narasi yang memancing emosi atau memprovokasi masyarakat,” tegasnya.

Wayan Baru menilai penggunaan bahasa yang kasar dalam orasi justru dapat mengaburkan substansi perjuangan yang ingin disampaikan. Padahal, kritik yang disampaikan secara elegan dan argumentatif akan lebih mudah diterima oleh publik maupun pemerintah sebagai bahan evaluasi.

Ia menegaskan bahwa demokrasi memberikan ruang yang luas bagi setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat. Namun kebebasan tersebut juga harus dibarengi dengan tanggung jawab moral dan etika.

“Demokrasi bukan anarki. Kebebasan berbicara bukan berarti bebas menghina, merendahkan, atau menyerang pihak lain. Semua pihak memiliki hak untuk menyampaikan pandangan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang beradab,” katanya.

Lebih lanjut, Wayan Baru mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk menjaga tradisi intelektual yang selama ini menjadi ciri khas dunia kampus. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi, namun harus disikapi melalui dialog dan adu gagasan yang sehat.

“Kalau ada kebijakan yang dianggap kurang tepat, sampaikan kritiknya. Namun mari kita lakukan dengan santun, objektif, dan tetap menjaga persatuan. Bangsa ini membutuhkan kritik yang membangun, bukan provokasi yang justru memperkeruh suasana,” pungkasnya.007


TAGS :