Sosial
Pelukis Disabilitas Asal Buduk Jadi Daya Tarik PKB, Aksi Melukis Langsung Pikat Pengunjung Art Center
Selasa, 23 Juni 2026 | Dibaca: 1510 Pengunjung
Di tengah ramainya pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) di Art Center Denpasar, sosok I Gede Agus Mertayasa menjadi perhatian tersendiri bagi para pengunjung. Pelukis disabilitas asal Banjar Bernasi, Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung itu tidak hanya memamerkan hasil karyanya, tetapi juga berani menunjukkan kemampuan melukis secara langsung di hadapan pengunjung.
Aksi melukis yang dilakukan Agus di lokasi pameran membuat banyak pengunjung tertarik untuk mendekat, menyaksikan proses kreatifnya, hingga berinteraksi dengan keluarga dan pendampingnya. Kehadirannya menjadi salah satu daya tarik tersendiri di arena pameran UMKM dan kerajinan yang difasilitasi oleh Dekranasda Provinsi Bali.
Meski mengalami tuna daksa dan tuna wicara sejak kecil, Agus mampu menunjukkan bakat luar biasa melalui goresan kuasnya. Dengan penuh ketekunan, pria berusia 28 tahun tersebut menghasilkan karya-karya bertema tradisi Bali klasik dan pewayangan Bali yang memiliki ciri khas tersendiri.
Ayah Agus, I Ketut Sudana (56), mengatakan putranya rutin mendapatkan kesempatan tampil di Art Center melalui dukungan Dekranasda Provinsi Bali. Berbagai hasil karyanya juga dibantu pemasarannya oleh Dekranasda serta Dinas Perdagangan Provinsi Bali.
“Agus tidak hanya memajang lukisan. Di Art Center dia juga melukis langsung di depan pengunjung. Banyak yang tertarik melihat prosesnya dan akhirnya mengenal karya-karyanya,” ujarnya.
Menurut Sudana, bakat melukis Agus sudah terlihat sejak usia dini. Saat masih taman kanak-kanak, Agus sudah gemar menggambar. Kemampuannya terus berkembang saat duduk di bangku sekolah dasar dan belajar secara otodidak, termasuk ikut membuat sketsa ogoh-ogoh di lingkungan tempat tinggalnya.
Selain melukis di atas kanvas, Agus juga mampu berkarya pada berbagai media seperti kulit dan pelepah pinang. Beragam karya tersebut telah dipasarkan ke berbagai daerah bahkan turut dibawa dalam pameran di Jakarta.
“Di Art Center pernah ada lukisannya yang terjual sekitar Rp1,5 juta. Ada juga karya yang laku sampai Rp7 juta,” ungkap Sudana.
Meski hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat SMP, Agus terus mengembangkan kemampuan seninya. Ia juga pernah mendapatkan pelatihan melukis saat mengikuti pendidikan di STU Teknik Ukir.
Saat ini Agus masih membutuhkan bantuan khusus dalam aktivitas sehari-hari akibat kondisi disabilitas yang dialaminya sejak kecil. Namun keterbatasan tersebut tidak menghalangi semangatnya untuk terus berkarya.
Sudana berharap ke depan putranya semakin sering diberikan ruang untuk menampilkan karya seni kepada masyarakat luas. Bahkan ia berharap karya Agus suatu saat dapat dikenal hingga mancanegara.
“Harapan saya Agus terus diberikan kesempatan tampil agar semakin dikenal masyarakat. Kalau bisa sampai dikenal ke luar negeri, tentu kami sangat bangga,” harapnya.
Kehadiran Agus di PKB menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. Dengan dukungan keluarga, pemerintah, dan masyarakat, ia mampu menjadikan seni lukis sebagai media ekspresi sekaligus inspirasi bagi banyak orang.007
TAGS :