Peristiwa

Belum Beroperasi, TPST Biaung Sudah Rusak, DPRD Klungkung Minta Aparat Turun Tangan

 Jumat, 27 Maret 2026 | Dibaca: 2316 Pengunjung

www.mediabali.id, Klungkung. 

Proyek  Rp14,39 miliar TPST Biaung di Desa Ped, Nusa Penida, kini menjadi sorotan serius. Belum juga difungsikan, bangunan tersebut justru sudah menunjukkan kerusakan. Kualitas pengerjaan pun dipertanyakan, bahkan disebut tidak layak pakai.

Temuan ini mencuat saat Wakil Ketua DPRD Klungkung, I Wayan Baru, turun langsung ke lokasi. Ia dibuat geram melihat kondisi fisik bangunan yang dinilai amburadul. “Ini proyek belum diserahterimakan, tapi kondisinya sudah hancur. Kita injak saja sudah ‘krepak-krepek’, apalagi kalau dilewati truk atau alat berat. Ini jelas tidak benar,” tegasnya dengan nada tinggi, Jumat (27/3/2026).

Ia menyoroti kualitas rabat lantai yang disebut sangat rendah. Di sejumlah titik, lantai sudah retak, pecah, bahkan terkelupas. Padahal, fasilitas ini seharusnya menopang operasional alat berat dan kendaraan pengangkut sampah.

Jangankan untuk insinerator, truk saja lewat sudah bisa hancur. Ini konstruksi asal-asalan. Lebih ironis lagi, fasilitas dasar seperti toilet justru tidak tersedia. Kondisi ini dinilai mencerminkan lemahnya perencanaan proyek. “Tidak ada toilet. Petugas mau buang air di mana? Ini proyek miliaran tapi hal mendasar saja tidak ada,” kritiknya.

Tak hanya itu, sejumlah komponen penting seperti mesin pencacah dan mesin press belum juga tersedia. Rencana pengadaan insinerator pun belum jelas keberadaannya. Sementara bangunan sudah lebih dulu rusak.

Keluhan juga datang dari petugas kebersihan di TPA Biaung yang merasa fasilitas tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan kerja di lapangan. Staf Persampahan Nusa Penida, Ketut Mudra Adnyana yang sejak awal mendampingi proyek ini, mengungkapkan kekecewaan mendalam.

“Dari awal pengerjaan sudah tidak sesuai harapan. Lantainya hancur, kualitasnya sangat diragukan. Ini anggaran sekitar Rp14 miliar, tapi hasilnya seperti ini,” ujarnya.

Ia juga menyoroti instalasi listrik yang dinilai dikerjakan secara asal-asalan, berpotensi menimbulkan risiko ke depan. Di sisi lain, penataan TPA Biaung yang sebelumnya dirancang dengan lima cell tempat penampungan sampah kini belum berjalan optimal. Dua cell sampah sudah diurug, dua cell dijadikan TPST, dan satu masih digunakan open damping. Namun, dengan kondisi bangunan yang rusak, program pengelolaan sampah terpadu praktis terhambat.

Melihat kondisi ini, Wayan Baru meminta langkah tegas. Ia mendesak rekanan untuk mengulang pekerjaan dengan material yang layak. “Ini sudah tidak benar. Harus diulang dengan kualitas yang bagus. Jangan sampai membahayakan. Aparat penegak hukum harus turun tangan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa lantai TPST harus benar-benar kuat dan mampu dilintasi kendaraan operasional. Jika tidak, proyek ini dikhawatirkan hanya menjadi pemborosan anggaran tanpa manfaat nyata bagi masyarakat.007


TAGS :